Kamis, 30 Agustus 2018

Melek aksara, why not ?

poster event hari aksara

Masalah buta aksara merupakan permasalahan yang sangat urgent, UNESCO mengatakan dalam deklarasinya bahwa buta aksara adalah masalah dunia dan penyandang buta aksara terbesar berada di negara berkembang. Indonesia adalah negara berkembang, dengan demikian Indonesia harus mengentaskan permasalahan buta aksara. Dimana kemerdekaan menjanjikan kepada generasi bangsa yang tertuang dalam UUD 45, “ mencerdaskan kehidupan bangsa” petikan isi yang ada dalam UUD 45 hingga saat ini masih belum mampu sepenuhnya memberikan apa yang telah dijanjikan kepada bangsa, dimana sejak kemerdekaan sampai sekarang masih banyak masyarakat yang mengalami keterbelakangan dalam mengembangkan cakrawala keilmuannya khususnya dalam dunia keaksaraan. Masyarakat kita sangat banyak yang buta aksara dikarenakan oleh beberapa faktor, lingkungan tempat tinggal menjadi faktor pemicu untuk keberlangsungan hidup masyarakat kita, sebab lingkungan adalah pintu pertama untuk mengasah kemampuan.

Menjadikan masyarakat melek terhadap aksara tidaklah mudah, membutuhkan proses yang panjang dan ketelatenan serta sarana yang memadai seperti bahan bacaan, alat-alat tulis dan sebagainya. Masyarakat yang mengalami buta aksara setiap kemampuannya berbeda-beda sehingga para pemangku pendidikan sangat perlu menciptakan strategi yang pas untuk menyelesaikan permasalahan yang tak kunjung selesai seja dulu. Harus diakui, hingga saat ini, masyarakat kita masih sangat lemah dalam hal membaca, UNESCO menunjukan presentase daya tarik membaca masyarakat indonesia 0,01 persen, maka tidak salah jika Indonesia dikatakan penyandang buta aksara. Menurut Pujiono 1981,44 dan Nurhadi 1978,24 membaca merupakan poses komunikasi ide antara pengarang dengan pembaca. Dimana dalam proses ini pembaca mencoba untuk menginterpretasikan makna yang tersirat dalam bacaan atau bahasa yang disajikan oleh pengarang. Tetapi di era yang serba instan ini kebanyakan masyarakat kita memilih untuk menikmati sajian instan itu ketimbang dengan proses yang melelahkan yaitu membaca.

Dengan demikian untuk menumbuhkan melek aksara untuk masyarakat perlu sebuah kebiasaan dalam belajar, Dimana kebiasaan itu merupakan perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa adanya unsur paksaan menurut Kimbey (1975,662). Kebiasaan buka sesuatu yang alamiah dalam diri manusia tetapi merupakan hasil proses belajar yang sangat panjang dan penuh perjuangan. Karena itu kebiasaan dapat dibina dan ditumbuh kebangkan dengan usaha yang sungguh-sungguh. sebab dengan biasa akan menjadi terbiasa serta rasa keinginan yang tinggi untuk menjadi tahu dalam segala hal sehingga dengan demikian masyarakat kita dengan sendirinya akan membantu para pemangku pendidikan dalam menyelesaikan permasalahan dalam hal buta aksara. Jadi antara pemangku pendidikan dengan masyarakat harus saling bekerjasama untuk sebuah kesejahteraan bangsa.

Oleh karena itu mari kita bongkar kebiasaan kita yang sejak kemaren lebih suka dengan hal yang serba instan dan siap saji. mulai sekarang kita biasakan untuk berproses terlebih dahulu untuk mendapatkan kenyamanan karena tak ada proses yang menghianati hasil begitupun tak ada hasil yang membohongi proses. Dengan diadakannya peringatan hari aksara diharapkan masyarakat dan orang tua juga menyadari betapa pentingnya membaca serta menulis sebab dari sinilah perbaikan-perbaikan generasi bangsa akan menjadi baik.

Membaca masalalu menulis masa depan, selamat hari aksara yang ke 53 semoga masyarakat bisa meningkatkan daya tarik untuk membaca. 

Bak dunia aksara
Lautmu esai
Langitmu puisi
Bumimu cerpen

“ setiap cerita akan menemukan endingnya tersendiri, tidak ada hal yang tidak bisa tetaplah berproses dan berjuang”.
-Alina chelens-

Tidak ada komentar:
Write komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *