Senin, 30 Juli 2018

Trip Teaching sebagai Pembelajaran Baru

cerita Triatmaja Gatra dalam kegiatan trip teaching
cerita Triatmaja Gatra dalam kegiatan trip teaching

Minggu 30 Juli, tepat jam 2 pagi saya bangun dari tidur dan menyiapkan segala perlengkapan untuk Trip Teaching, bukannya aku malas mengikuti progam ini karena tidak menyiapkannya jauh-jauh hari tetapi karena saya baru pulang dari Kediri jam 11 malam menepati janji mengunjungi temanku KKN. Badan terasa bergetar karena terlalu lama menyetir motor tetapi tidak sedikitpun menyurutkan niatku untuk mengikuti program Trip Teaching ini. Kalo boleh sedikit bercerita, Menjadi Guru adalah cita-cita saya semenjak kecil, tetapi saya sama sekali tidak mempunyai basic cara mengajar. Beruntungnya saya menemukan info trip teaching di social media, dengan antusias dan berharap keras saya mencoba mendaftar, jujur saya pesimis mengingat saya tidak mempunyai basic dalam mengajar serta saya bukanlah orang asal madura, tapi ternyata komunitas mau menampung saya. Senang betul rasanya saat diterima “Yes, Aku akan belajar mengajar dan mendidik anak” itu yang ada dalam benak saya waktu itu , saya serasa menemukan komunitas yang sejalan dengan jalan saya. Di dalam cerita singkat ini, saya akan bercerita tentang suka dan duka selama mengikuti trip teaching ini dan berbagai pengalaman menarik lainnya.
 
Ini adalah pengalam saya pertama kali menaiki bis kota sendiri, tidak terpikir benak khawatir atau semcamnya karena tertutup rasa senang dan penasaran. Saya mengikuti arahan teman untuk berkumpul di saronggi, tetapi saya lupa saronggi mana tepatnya, kondektur kembali bertanya dan saya masih tidak tahu pasti, dan pada akhirnya Aku di turunkan di Polsek Saronggi. Beruntung saya bertemu dengan mahasiswa KKN di Polsek dan segera mengetahui posisi pasar saronggi. Saya pun segera berjalan ke arah pasar, sesampainya di sana ternyata sudah ada teman-teman yang bahkan berangkatnya belakangan dari saya, wkwkk nampaknya saya terlalu lama berjalan sehingga meraka bisa berada di depanku. Saya terkejut ternyata semua sudah well-prepared mulai transportasi sampai bawaan buku, tiba saatnya saya menaiki pick-up bersama anggota lain, dan tak lama sampai di pelabuhan. Kita pun menaiki perahu dan setelah satu jam kita pun berlabuh pada pelabuhan. Tidak lama setelah turun dari kapal, kami di sambut oleh Pak Pur dan beliau mengarahkan ke sekolah, sempat terpikir bahwa ini akan jauh, tetapi ternyata sangat dekat. Pak Pur dan Pak Riyadi adalah orang yang sangat ramah. Jujur saya tidak pernah bertemu orang se-ramah Pak Pur dan Pak Riyadi. Mereka berdua dengan senang hati menerima kita di sekolah maupun di rumah mereka.
 
Saya datang dari kota dengan segala kemewahannya, itu yang membuat serasa duka berada disini. Air disini dingin, udara panas, serta matahari yang menyengat. Di sana saya belajar hidup sederhana, mulai dari tidur beralas tikar dan mandi tanpa water heater memang berat pada pertama kali tetapi lama kelamaan saya mulai terbiasa, meski tetap saya masih memerlukan waktu lebih untuk mengumpulkan niat mandi. Selain itu yang membuat saya bersedih di sini adalah, kurangnya pemanfaatan fasilitas sekolah karena keterbatasan pengajar disini, melihat alat-alat peraga tersusun rapi tak terbuka saya merasa sayang. Sudah tentu anak SD akan sangat senang jikalau dapat belajar sambil bermain, tentunya alat peraga dapat membantu mereka. Pak Riyadi mempersilahkan Kita untuk membuka berbagai macam alat peraga, saya yang masih bersifat kekanak-kanakkan membuka dan memainkannya sembari berharap dapat memainkannya juga dengan siswa disini, tetapi jumlahnya sangat banyak, hanya sebagian yang bisa kita pergunakan padahal saya mau menggunakannya semuanya. Di sini saya merasa senang bercampur sedih, senangnya karena pemerintah memperhatikan sekolah kecil di sini dengan mengirimkan bantuan berupa alat peraga, sedihnya karena pengajar di sini kurang edukasi dalam mempergunakannya, bantuanpun menjadi sia-sia.
 
Sukanya di sini adalah semuanya mendukung dengan sangat progam kami, tidak hanya dari pihak sekolah namun sampai warga pun ikut mendukung. Satu hal yang tidak pernah saya lupakan adalah ketika kami meminta memajukan acara pameran cita-cita secara mendadak dan pihak sekolah dengan mudahnya mengiyakan tanpa syarat ataupun pengurusan surat, sore itu setelah kita menginfokan, mereka langsung menyiapkan panggung dan langsung melatih anak-anak untuk pentas seni, jujur saya terkesan dengan kesigapan mereka semua. Yang membuat saya terkesan lainnya adalah warga disini juga mendukung dan menunjukkan bentuk apresiasinya pada Kita, mulai penjaga warung kelontong yang memberikan minuman cuma-cuma, Pak Pur yang membawakan kami sarapan, sampai Ibu Kantin yang memberikan bingkisan makanan ehh kalo ada kawan-kawan Saghara Elmo yang membaca ini, maafkan bingkisannya saya makan sendiri (kalian sibuk mengajar) wehehe. Saya sampaikan salam terima kasih dari Ibu Kantin.
 
Di sini saya belajar banyak sekali, dari siswa-siswi dan dari rekan-rekan juga. Saya mulai paham karateristik anak dan belajar cara mengajar sesuai kepribadian mereka masing-masing. Siswa-siswi di sini memang sedikit bawel tetapi mereka antusias dalam belajar. Pernah di suatu kesempatan saya memaksakan diri untuk mengajar sendiri, iya saya memaksakan diri saya agar bisa mengajar selagi ada kesempatan. Dari sini saya merasakan betapa beratnya jadi guru. Teruntuk anda Guru, kalian luar biasa. Dari rekan-rekan, saya belajar juga leadership dan lainnya. Kami saling bertukar pikiran saling memperbanyak ilmu. Kami juga melakukan game-game kecil untuk mempererat hubungan dan mencari tahu kepribadian masing-masing. Dari seminggu ini saya merasa miris, karena ternyata masih ada pendidikan di indonesia yang tertinggal dan kekurangan staff pengajar. Ke depannya saya berharap bisa kembali ke sini untuk memajukan pendidikan di sini.

Tidak ada komentar:
Write komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *