Senin, 09 Juli 2018

Secercah Inspirasi dari Gili Genting

Tidak terasa pengalaman melaksanakan program pengabdian di sekolah telah saya lakukan sekitar 2 tahun yang lalu di Pulau Jawa tepatnya di Pantai Jolosutro, Kabupaten Blitar. Namun hal serupa telah saya alami kembali pada tahun ini. Bedanya pada tempat pengabdian, yaitu di tanah kelahiran yakni di Pulau Gili Genting, Kabupaten Sumenep, Madura. Tentu tidak berpikir panjang dalam menyatukan niat untuk menjalankan program ini, karena program ini dilaksanakan oleh komunitas saya sendiri dengan nama program Trip Teaching.

nickmatus solicha relawan kegiatan trip teaching Saghara Elmo
nickmatus solicha [relawan kegiatan trip teaching Saghara Elmo]

Program Trip Teaching adalah program pengabdian kedua yang diselenggarakan oleh komunitas saya dan teman-teman saya yaitu Saghara Elmo Community yang mana kami bergerak dalam bidang pendidikan. Tulisan ini saya buat mengenai program Trip Teaching yang telah kami langsungkan pada tanggal 21 Juli-5 Agustus 2017 kemarin. tentu saya tidak sendirian dalam pelaksanaan program ini, namun saya ditemani oleh enam orang yang sama-sama memiliki semangat yang membara dalam dunia pendidikan.

Sebelum program trip teaching ini berlangsung, saya memegang tanggung jawab atas open recruitment para kontributors yang kami adakan. Rasa pesimis terbersit dalam diri karena sedikit ada keraguan jika pencarian kontributors akan memiliki peminat yang sedikit, akan tetapi keraguan itu hilang ketika melihat pendaftar kontributors dalam program ini diluar dugaan. Sehingga pada akhir seleksi kami menetapkan kontriburs dengan kesesuaian program ini, mereka diantaranya adalah Siti Nur Aisyah, Alaika Amrina, Desty Ayu Nindya, Triatmaja, Ariel Ardian Noer, dan Avip Zain Haq. Merekalah yang akan menemani saya dan Imamatul Khair berlayar dalam satu misi. Begitu banyak persiapan yang kami alami dalam kesuksesan acara, sehingga kami dapat menetapkan jadwal yang pas untuk program ini.  Hari demi hari semakin mendekati jadwal keberangkatan kami dan gencaran diskusi terus kami mantapkan agar kami benar-benar mempersiapkan diri.

Pertigaan Sarongghi, kabupaten Sumenep menjadi tempat titik kumpul kami. Panas terik matahari tidak membuat semangat kami luntur untuk menuju pelabuhan di atas transportasi pick up. Sesampai di pelabuhan kami telah siap menunggu kapal untuk mengantarkan kami ke tempat pengabdian kami yaitu Pulau Gili Genting. Suara kapal terdengar semakin dekat, itu tandanya kita sesegera mungkin berkemas untuk memasukkan barang-barang kita dan beberapa kardus berisi buku hasil dari donator untuk diberikan kepada adik-adik di sana. Ombak menemani kami dalam perjalanan itu, seakan memberitahu bahwa di sana begitu indah dan keren.

Akhirnya pulau ini menyapa kedatangan kami. Birunya air laut dan pemandangan pantai serta perahu yang menyegarkan mata untuk melihat icon pulau ini. Maka saat itu juga… pengabdian kami dimulai…

Mengabdi; kepada Tuhan, Tanah Kelahiran dan Orang Tua 

Saya memilih kata mengabdi, setidaknya saya akan mengatakan bahwa lewat gerakan komunitas saya telah mengikuti perintah Tuhan untuk berbuat baik kepada orang lain. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain, atau jika dikaitkan dengan bahasa keagamaan, bahwa berbuat satu kebaikan maka kita akan mendapatkan pahala. Selanjutnya lewat pengabdian ini pula saya merasa bahwa langkah yang saya ambil adalah bagian dari pengabdian saya untuk tanah kelahiran, yaitu ilmu yang kembali pada tanah kelahiran. Seperti juga dikatakan oleh Bapak Anis Baswedan bahwa mendidik adalah tugas semua orang terdidik. Hal lain yang berkaitan dengan proses pengabdian ini adalah untuk membahagiakan orang tua. Saya sadar bahwa orang tua saya telah mendidik dan menyekolahkan saya, maka saya pun ingin agar ilmu yang saya dapatkan bisa bermanfaat terhadap orang lain. Dan bersyukur sekali orang tua sangat mendukung dan bahagia dengan pilihan saya.

Saya jadi teringat apa yang dikatakan Zawawi Imron, Sastrawan asal Madura, “Kita lahir di Indonesia, minum airnya menjadi darah kami, makan beras dan buah-buahan di Indonesia menjadi daging kami, kami menghirup udara Indonesia, menjadi nafas kami, kami bersyujud di atas bumi Indonesia, bumi Indonesia adalah sajadah kami, bila tiba saatnya kami mati, kami akan tidur dalam pelukan bumi Indonesia, karena itu berikanlah kepada kami rasa cinta kepada tanah air, jadikan bumi Indonesia menjadi tempat kami menebar senyum, kasih sayang, jadikanlah bumi Indonesia menjadi ladang kami untuk menebar kebaikan sehingga masyarakat adil dan makmur untuk anak cucu kami yang akan datang”. Salah satu tokoh penting lain, mantan presiden Amerika Serikat, John F Kennedy mengatakan, “Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu!”

Berbagi; Lewat silabus pantai, Eksperimen pantai, Pameran cita-cita

Saat di penempatan kami berbagi lewat pembelajaran 5 silabus yang semua bertemakan kehidupan pesisir khususnya yang berada di sekitar pantai. Silabus tersebut kami buat tentu dengan persiapan bahan eksperimen sebagai penunjang kematangan materi yang telah disampaikan. Tema silabus tersebut pertama meliputi pasang surut air laut yang dengan penanggung jawabnya adalah Aik, mengenai pohon kelapa dengan penanggung jawabnya Nindya, mengenai warna air laut dengan penanggung jawabnya Aisyah, mengenai hewan dan tumbuhan dengan penanggung jawabnya saya sendiri, dan tema pasir pantai dengan penanggung jawabnya Ariel. Antusiasme adik-adik siswa SDN Bringsang 1 semakin tinggi ketika kami ajak ke pantai Sembilan untuk melaksanakan eksperimen yang telah kami sediakan sebagai bahan percobaan dan pengamatan. Tentu mengatur adik-adik tidaklah mudah, kami merapatkan barisan untuk menumbuhkan semangat dalam belajar outdoor. Hal inilah yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya dalam belajar sambil bermain dan mengamati. Sayangnya belajar outdoor tidak kami jalankan pada siswa SDN Bringsang 2 karena kekurangan tenaga kami dan faktor jarak antara sekolah SDN Bringsang 2 yang lumayan jauh untuk mengajak adik-adik ke pantai. Namun hal itu tidak menghalangi antusias semangat adik-adik bringsang 2 untuk mau menerima pembelajaran indoor dari kami.

Tak kalah menariknya lagi dengan acara pameran cita-cita yang telah kami siapkan untuk adik-adik SDN Bringsang 1 dan 2. Acara ini kami kemas untuk memperkenalkan gambaran cita-cita yang ingin di capai suatu ketika dewasa nanti. Adapun cita-cita yang telah kami sediakan dalam bentuk stand yaitu guru, arsitek, koki, pemandu wisata, desaigner, petani sukses, dokter, dan pengusaha. Alhamdulillah acara itu berjalan dengan lancar berkat dukungan dari pihak sekolah SDN Bringsang 1 yang telah menyediakan fasilitas bagi kami seperti panggung, sound, dan peralatan lainnya. 

Menginspirasi; bersama dengan Guru dan Siswa.

Kedatangan saya bersama dengan anggota trip teching yang lain, selain mengajar juga menginspirasi, baik menginspirasi yang kemudian melibatkan guru dan siswa. Seperti Pak Pur dan Pak Riyadi, mereka adalah seorang guru yang membantu kami dalam pelaksanaan program trip teaching dari awal sampai akhir. Saya benar-benar tekagum dengan sosok beliau yang sangat menginspirasi bagi kami dalam setiap diskusinya. Beliau guru PNS disana yang menurut saya paling peduli akan pendidikan. Strategi mengajarnya pun sangat disenangi oleh siswanya, tidak sedikit dari siswanya yang merasa senang dan menjadi tauladan bagi siswanya. Pak Riyadi pernah menjabat sebagai kepala sekolah yang mana diganti menjadi Pak Pur sebagai kepala sekolah saat ini. Bagi saya keduanya adalah penggagas dan penggerak dalam setiap perjalanannya sebagai seorang guru. Pak Riyadi yang memiliki kemampuan berpikir yang baik dalam menciptakan gagasan untuk diimplementasikan dalam berbagai program sekolah dan Pak Pur yang memiliki kemampuan bertindak cepat dalam mekasanakan perintah yang telah dibuat oleh Pak Riyadi. Kami sangat tertegun dengan kehadiran sosok keduanya di sekolah, rasa syukur dan bangga bagi kami bahwa sekolah pesisir masih memiliki sosok guru seperti beliau.

Tak kalah menariknya dengan adik-adik siswa SDN bringsang yang sangat menginspirasi dalam semangatnya untuk terus sekolah meskipun tanpa ditemani orang tua setiap harinya. Saya sebut saja adik ganteng yang memiliki mata sipit yaitu Daniel kelas V, ditinggal orang tuanya merantau ke Jakarta tentu tidak mudah bagi Daniel menjalani kerinduan setiap hari yang dia rasakan. Saat ini dia tinggal bersama neneknya. Tak luput kami tanyakan kepada Daniel atas rasa rindunya kepada orang tuanya, dia pun menjawabnya dengan mudah, “ya kangen lah kak, ya mau gimana lagi.. dibawa main aja sama teman biar gak kepikiran”. Sentuhan kata itu terlontar juga dari teman-teman Daniel yang juga merasakan hal serupa dengannya. Mendengar lontaran kalimat itu membuat saya memutar pikiran untuk berpikir ulang yang terkadang pernah saya keluhkan terhadap perjalanan sekolah saya. Merasa tidak bersyukurnya saya atas apa yang telah saya dapatkan dari Tuhan.

Waktu terus mengingatkan…

Hari terakhir saya dan teman-teman menutup perjalan trip teaching kami dengan berkunjung ke pantai kahuripan ditemani oleh Par Pur. Perjalanan itu menjadi saksi bahwa hari itu kita akan beranjak pulang kembali ke tempat kita. Setelah menikmati perjalanan di kahuripan, tak percaya rasanya bahwa waktu telah mengingatkan kami untuk segera bergegas kembali untuk menyiapkan kepulangan. Ruang kantor guru pun menjadi saksi tangisan perpisahan kami, suasana yang sunyi hanya terdengar ucapan terima kasih dari Pak Pur kepada kami. Pandangan sudut matanya memerah saat berbicara sebuah perpisahan membuat saya tanpa semakin tidak bisa memendung jatuhnya air mata. Perpisahan ini memang bukanlah pengalaman pertama saya, namun rasa tangis tak terkalahkan walaupun hanya satu minggu saya menetap. Namun waktu tetap terus mengingatkan kami untuk segera beranjak karena mengingat kapal perahu yang akan membawa kami telah menunggu. Menit demi menit hingga pada detik demi detik kami tiba di kapal perahu yang siap mengantarkan kami pulang.

Deburan ombak terus mengalunkan nadanya sembari mempersiapkan kapal perahu untuk segera berangkat. Terik panas pun semakin terasa menyengat di kepala ketika tali perahu telah siap untuk dilepaskan dari pegangannya. Tangan kami siap untuk melambaikan kepada mereka seakan berjanji bahwa kami akan segera kembali lagi. Sahutan lambaian pun juga terlihat dari mereka kepada kami dan secercah cahaya panas disiang hari menjadi saksi bahwa saatnya kami pergi. Terima kasih atas segala kenangan yang telah kita jalani bersama selama satu minggu. Tidak ada lagi rasa ketenangan hidup yang setiap hari saya rasakan ketika menuju pantai untuk menyapa pagi, bercengkrama dengan Tuhan beserta alamnya. Hanya hati yang terbersit dalam diri, semoga Tuhan masih memberikan kesempatan waktu agar kita dapat berjumpa kembali untuk membicarakan kembali kenangan ini.

Terakhir, saya ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada keluarga SDN Bringsang 1 dan SDN Bringsang 2, Para donator, dan seluruh teman-teman saghara Elmo serta teman kontributors yang telah telah menfasilitasi dan dengan suka rela memberikan sumbangan pikiran dan tenaga untuk menyukseskan Program Trip Teaching. Semoga semangat kita akan terus membara dalam usaha memajukan pendidikan.

Tidak ada komentar:
Write komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *