Tentang Kami


Saghara Elmo merupakan organisasi pemberdayaan masyarakat yang memiliki fokus pada isu-isu pendidikan dan sosial di masyarakat. Saghara Elmo melakukan pendampingan peningkatan Pendidikan dan kesadaran sosial di Pulau Madura meliputi 4 (empat) kabupaten yaitu Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan. Lokasi pemberdayaan masyarakat yang telah kami lakukan meliputi Kabupaten Sumenep dan Pamekasan. Saghara Elmo berkeinginan untuk membantu peningkatan akses dan kualitas Pendidikan di Madura dengan mengintegrasikan elemen sosial dan ekonomi yang dapat memberikan dampak positif terhadap masyarakat Madura utamanya generasi muda Madura.

Nama Saghara Elmo berasal dari Bahasa Madura dan terdiri atas unsur alam dan kebutuhan dasar serta hak manusia. Saghara memiliki arti Lautan, sedangkan Elmo bermakna Ilmu. Penggabungan dua kata ini tentu memberikan bayangan betapa luasnya ilmu yang harus diperlajari manusia. Nama Saghara Elmo dapat dimaknai sebagai lautan ilmu yang penuh dengan kesempatan untuk berkarya, berinovasi, berbagi, dan bermanfaat bagi sesama.

lets feel what they feel?
and helping them for a better condition

Sabtu, 06 Juli 2019

Zonasi: Masalah atau Solusi?

Baru-baru ini sekali, sosial media saya diramaikan oleh sistem zonasi. Grup guru di salah satu social media juga beradu pendapat soal implementasi zonasi di Indonesia dan Jepang sebagai negara percontohan. Sebelum membahas hal ini lebih lanjut, saya teringat tentang perjalanan saya ke salah satu sekolah di Gili Genting dalam sebuah program (read: Trip Teaching). Untuk menuju Gili Genting, saya butuh waktu satu jam tanpa ombak menghadang perjalanan. Bayangkan, jika laut tidak sedang bersahabat, tentu saja bisa memakan waktu lebih. Begitu pertanyaan saya muncul untuk siswa-siswi yang tampak malu-malu, tiga cita-cita terfaforit sepanjang tahun terlontar dari lisannya; Guru, Dokter, Pilot. Cita-cita ini salah? Oh, tidak, tentu tidak salah. Saya dulu pun juga menaruh perhatian besar untuk menjadi salah satu di antaranya sebelum akhirnya memutuskan sekolah di luar zona. 

Zonasi: Masalah atau Solusi?
Ilustrasi oleh Beritatagar
Kembali lagi soal polemik zonasi, perlu ditelusuri lebih lanjut hal-hal tertulis di Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru Pada Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Dan Sekolah Menengah Kejuruan. Saya menemukan beberapa hal yang perlu kita pahami terlebih dahulu. Kemendikbud menetapkan ada 3 jalur pendaftaran penerimaan peserta didik baru yaitu jalur zonasi, prestasi, dan perpindahan orang tua/wali. Daya tampung untuk masing-masing jalur adalah 90%, 5%, dan 5%. Itu artinya penerimaan peserta didik baru dengan jalur zonasi lebih banyak dipertimbangkan daripada jalur lainnya. Pemerintah daerah bertugas untuk mengatur jalur zonasi di daerah dan melaporkannya ke lembaga penjaminan mutu pendidikan setempat. Indikator penerimaan peserta didik baru untuk setiap jenjang pendidikan berbeda-beda. Misalnya, Sekolah Dasar memprioritaskan soal usia dan jarak tempat tinggal dengan sekolah. Sekolah Menengah Pertama lebih mempertimbangkan jarak  tempat tinggal dan sekolah. Jika ada siswa memiliki jarak rumah sama, pihak sekolah akan memprioritaskan  siswa yang mendaftar lebih awal. Alternatif lainnya jika memang ada lagi kesamaan, pihak sekolah akan menggunakan nilai ujian sekolah berstandar nasional. Lain lagi jika berbicara soal penerimaan peserta didik untuk SMA dan SMK, jarak rumah ke sekolah tentu akan jadi prioritas. Sedangkan jika ada kesamaan jarak, siswa dengan pendaftaran yang lebih awal akan diprioritaskan. Jika masih saja ada persamaan, yang dipakai adalah nilai Ujian Nasional ditambah penghargaan dan tes minat dan bakat.

            Hal itu adakah sekelumit ketentuan yang dipaparkan melalui Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018. Tentu tidak pantas jika saya pribadi menentang ide zonasi sepenuhnya. Ada beberapa hal yang menjadi kelebihan serta kekurangan dari kebijakan ini. Pertama, saya begitu setuju soal menghilangkan citra sekolah favorit yang dieluh-eluhkan. Jika seorang siswa gagal masuk sekolah favorit sedangkan teman sejawatnya berhasil menempuh sekolah favorit, ia cenderung akan merasa lebih kecil dari teman-teman di sekolah favorit. Ketidakmampuan menerima dan menunjukkan label “favorit” dapat memberikan pengaruh negatif terhadap kesehatan mental seseorang. Kemendikbud menyadari adanya hal ini sebagai salah alasan mengapa zonasi diberlakukan. Mencegah diskriminasi, katanya. Alasan dasar lainnya adalah agar anak dengan status ekonomi tidak mampu bisa menjangkau sekolah terdekat dengan tempat tinggalnya. Poin ini berdasarkan pada tingkat kemampuan ekonomi untuk biaya pendidikan, misalnya transportasi.

Mendikbud juga berprasangka baik jika jalur zonasi ini juga akan memudahkan untuk mengintegrasikan peran orang tua, masyarakat, dan anak didik atau dengan kata lain sebagai kontrol pendidikan karakter anak. Apakah benar demikian? Untuk poin ini, saya lebih ingin menekankan bahwa kontrol pendidikan karakter anak dalam sebuah kultur belajar “culture of learning” tidak kondusif jika beberapa hal berikut ini terjadi. Pertama, kondisi sekolah masih tidak cukup bagus (berlebihnya jumlah siswa dalam kelas, siswa merasa takut dan terancam di sekolah), situasi rumah yang tidak mendukung (tempat tinggal yang tidak layak, tidak terpenuhinya nutrisi dan kesehatan siswa, hilangnya peran orang tua). Fasilitas sekolah yang tidak mendukung (dari segi fasilitas, alat peraga, infrastruktur), administrasi sekolah yang buruk (administrasi dan managemen sekolah belum rapi, ketidakpercayaan pada pimpinan, hubungan yang lemah antar tokoh-tokoh di sekolah). Selanjutnya, guru yang tidak berkomitmen dan berdedikasi (tingkat kehadiran yang rendah, ketidaksiapan dalam proses pembelajaran, ketidakpedulian terhadap perilaku siswa), orang tua yang tidak mendukung (kurangnya keterlibatan orang tua, kurang mendorong anak), siswa yang kurang motivasi dan disiplin.

Jalur zonasi ini telah berjalan 3 tahun lamanya. Dengan seiringnya jalur zonasi diberlakukan, peningkatan kualitas guru masih terus dilakukan. Zonasi bisa saja menuntut pemenuhan fasilitas baik secara kompetensi dan fisik di sekolah. Tolak ukur kualitas SDM dari proses mendidik dapat ditandai dengan Indeks Pembangunan Manusia yang dipengaruhi beberapa faktor seperti faktor ekonomi, faktor kesehatan dan faktor pendidikan. Sehingga, jika memang benar pemerintah memilih menerapkan sistem zonasi lebih lama, trigger dari siswa diperlukan untuk trend ini. Siswa dengan kemampuan mencukupi perlu memberikan stimulus untuk guru dan lingkungannya agar ekosistem sekolah bergerak dengan sebaik mungkin. Sehingga, ikhtiar penghapusan favoritisme sekolah membuahkan hasil. Semua sekolah berhasil, semua siswa berharga. 

Lalu bagaimana dengan siswa-siswi di Gili Genting jika sistem zonasi diberlakukan? Mereka akan kembali ke sekolah terdekat di pulau tersebut, bertemu dengan kondisi yang sama; akses dan kualitas seadanya. Cita-cita sebagai guru, dokter, dan pilot hanya berbentuk kata saat realita memaksa mereka sadar. Cita-cita harus dibarengi dengan kompetensi dan persistensi. Maka, tak ada yang bisa mereka lakukan, kecuali belajar menjadi pemicu dari sangkarnya sendiri.

Bagian kabar baiknya, siswa yang mendapat nilai UN tinggi dan berbagai macam penghargaan masih diberikan kursi hangat sebesar 5% untuk keluar dari zonanya. Perdebatan soal zonasi akan menjadi sebuah amanah bagi mereka. Dengan kata lain, mereka keluar zona memang untuk eksplorasi kemampuan dan berkarya lebih baik. Apalagi, sistem zonasi lebih memperjelas amanah dari setiap penggerak pendidikan di sekolah dan masyarakat. Kesimpulannya, pekerjaan rumah dalam bidang pendidikan masih sangat banyak dan butuh kerjasama dari berbagai pihak. 

Penulis : Imamatul Khair

Artikel pertama kali diterbitkan di :

Kamis, 27 Juni 2019

Kerja Bareng Buat Pendidikan


Halo Squad!
Kabar gembira kali ini datang dari Kegiatan Trip Teaching Gili Genting! Alhamdulillah, pada tanggal 15 Juni 2019 kegiatan ini kembali dilaksanakan. Pada kesempatan tersebut, kami berkolaborasi dengan #KirimBudi - sebuah gerakan yang diinisiasi oleh Najeela Shihab untuk mendistribusikan flash disk berisi video berbagai profesi dan mata pelajaran ke daerah-daerah yang minim akses internet. Kegiatan Trip Teaching kali ini dilaksanakan di beberapa sekolah dasar yang ada di gili genting, yaitu SDN Bringsang 1, SDN Aenganyar, dan SDN Gedugan.



Selain mendistribusikan flash disk kami juga melaksanakan kegiatan FUN ENGLISH loh, Squad! Kami mengenalkan berbagai profesi dalam kosa kata berbahasa inggris. Kami juga mengajak siswa untuk membuat kalimat sederhana dalam bahasa inggris. Kegiatan ini membuat siswa lebih bersemangat untuk belajar bahasa inggris loh, karena berkaitan dengan profesi yang mereka inginkan nantinya

Kemudian, kami melanjutkan kegiatan dengan mengenalkan flash disk #KirimBudi yang akan diserahkan kepada pihak Sekolah. Kami juga mengajak siswa untuk  menonton bersama beberapa video yang ada dalam flash disk #KirimBudi, seperti video profesi animator, dokter gigi dan beberapa video pembelajaran. Siswa terlihat sangat antusias saat diajak menonton bersama.

Kegiatan kami tutup dengan melukis pohon mimpi. Kami mengajak siswa untuk melakukan cap tangan pada cabang batang pohon yang telah kami sediakan. Sembari melakukan cap tangan, siswa juga dibantu menuliskan nama dan cita-cita mereka di cap tangannya masing-masing. Cita-cita siswa cukup beragam, mulai dari dokter, polisi, guru, hingga arsitek. Semoga cita-cita mereka tercapai ya, Squad!


Eitss.., tapi tunggu dulu! Kegiatan kami tidak hanya selesai sampai di situ saja. Karena nama kegiatan ini adalah Trip Teaching, tentu saja “Trip”-nya tidak boleh dilewatkan. Akhirnya, kami mengunjungi Pantai Sembilan yang berada tidak jauh dari lokasi salah satu sekolah yang kami tempati untuk melepas penat dan menyegarkan pikiran. Pantai ini merupakan salah satu destinasi favorit di Kabupaten Sumenep loh, Squad!


Setelah merasa puas menikmati keindahan pantai dan mengambil beberapa foto, kami memutuskan kembali ke sekolah untuk bersiap pulang. Namun sebelum pulang, kami menyempatkan foto bersama dengan Pak Riyadi. Beliau adalah guru yang menyambut dan membantu kami selama di Gili Genting.  Terima kasih, Pak!


Meskipun perjalanan untuk ke Gili Genting cukup panjang dan harus menghadapi gelombang laut yang tidak bersahabat, namun sambutan hangat guru-guru, antusiasme siswa dalam belajar, dan pemandangan kepulauan yang menyenangkan menjadi penawar bahkan pemanis dalam kegiatan ini.  Rasanya kurang waktu sehari di Gili Genting. Semoga kami dapat kembali mengunjungi pulau ini di kesempatan yang berbeda dan tentunya dengan kegiatan yang lebih menyenangkan dan bermanfaat. Nantikan cerita menarik lainnya dari kami yaa, Squad!

Penulis : Husnul Muasyaroh


Minggu, 23 Juni 2019

Memburu Beasiswa Sarjana ke Taiwan

MEMBURU BEASISWA SARJANA KE TAIWAN

Assalamu'alaikum, Squad!

Ada yang penasaran nggak ya seputar cara studi sarjana di luar negeri? Apalagi pakai beasiswa? Wooah, pasti penasaran, kan?

Sesi 2 Bincang-Bincang telah hadir! Kali ini kita bakal sharing seputar kuliah sarjana di Taiwan. Buat kalian yang penasaran cara memburunya dan pingin tahu sistem perkuliahan di Kaohsiung, Taiwan, sesi ini tepat buat kalian! Yuk, daftar!

Hari/Tanggal: Sabtu, 29 Juni 2019
Pukul: 20.00-21.00 WIB
Tempat: Whatsapp Grup

Pembicara: Sony Setiawandani, A. Md. T. (Sedang menempuh Bachelor of Mechanical Engineering, Cheng Shiu University, Taiwan).

Akan dimoderatori oleh: Imsakiyah Homisah (Management Development Program, Saghara Elmo).

Pendaftaran ditutup tgl 28 Juni 2019.

Mau ikutan? Caranya gampang!
1. Follow platform IG @saghara.elmo dan mention 3 temanmu untuk ikutan
2. Kirimkan Screenshoot bahwa kamu sudah follow platform Saghara Elmo ke WA https://bit.ly/2HW3Whm
3. Kamu sudah termasuk peserta diskusi!

Benefitnya apa?
- Bisa tahu secara lebih nyata kehidupan sebagai mahasiswa Sarjana di luar negeri
- Networking dengan para peserta lain yang ahli di bidangnya
- Mengetahui cara agar bisa melanjutkan Studi Sarjana hingga ke luar negeri
- Mengetahui kondisi sistem perkuliahan di luar negeri

Don't wait too long! Ayo gabung!

Website: sagharaelmo.com
Instagram: https://bit.ly/2wbUxwq
Youtube: https://bit.ly/2X0PfQu

Trip Teaching : Gili Genting 2019 [brosur]

Trip Teaching : Gili Genting 2019

Are you Ready for TRIP TEACHING 2019?

Buat yang belum tahu apa itu trip teaching, yuk kepoin trip teaching 2017. Berada seminggu di gili memberikan pengalaman yang tak terlupa buat relawan-relawan yang berpartisipasi. Mulai dari belajar dari alam, masyarakat, dan sekolah, semuanya lengkap di Trip Teaching 2017.

Menariknya, tahun ini, Trip Teaching kembali hadir dengan ruang lingkup yang lebih luas, menjangkau 6 sekolah di Gili Genting, Madura. Sabtu nanti kita akan on board menyusuri gili ke 4 sekolah. Kali ini, kita juga dapat kesempatan kolaborasi dengan #kirimbudi @kirimbudi portal penyedia materi ajar.

Mau tahu keseruannya? Stay tune ya

Jangan lupa ayo bagikan info-info program Saghara Elmo dan donasikan sebagian rezekimu untuk pendidikan di Madura!

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Donate now
choose what you can help

Buku

Donasi Buku, ditujukan ke: jalan veteran muda III/18 Rt. 003 Rw. 004, Kel. Barurambat Timur, Kec. Pademawu, Kab. Pamekasan, Jawa Timur. Atas nama Arika Kamelia

Uang

Donasi Dana, dapat dikirimkan melalui no Rek. 0698372633, Bank BNI Syariah a.n Arika Kamelia

Alat Belajar

Donasi alat permainan edukatif dan media pembelajaran, ditujukan ke: jalan veteran muda III/18 Rt. 003 Rw. 004, Kel. Barurambat Timur, Kec. Pademawu, Kab. Pamekasan, Jawa Timur. Atas nama Arika Kamelia